Bencana Alam dalam Perspektif Al-Quran dan Sains
oleh : Bapak Seno Prakoso
BENCANA ALAM DALAM PERSPEKTIF ALQURAN DAN SAINS
“Seperti apa rasanya hampir seminggu rumah direndam banjir dan belum ada tanda air akan menyurut? Pertanyaan inilah yang melanda sebagian besar warga kita saat dilanda bencana banjir pada awal bulan Februari lalu yang bertepatan dengan awal Ramadhan”
Alam raya dan bumi seisinya yang kita tempati bersama dengan mahluk hidup lain, merupakan ciptaan Allah yang tumbuh dan berkembang berdasarkan keselarasan dan keserasian. Keterpaduan ini telah menciptakan semacam ekosistem, sehingga alam raya
dapat berjalan sesuai dengan tujuan penciptaanNya. Ketika manusia menghirup oksigen dan mengeluarkan karbon dioksida, maka Allah telah menyiapkan tumbuh-tumbuhan hijau yang mengasimilasi karbon tersebut, melalui proses fotosinesis. Sehingga karbon dan oksigen dalam atmosfir kembali seimbang.
Hal ini tercantum dalam firmanNya di Surah Al Mulk: 3-4)
الَّذِيْ خَلَقَ سَبْعَ سَمٰوٰتٍ طِبَاقًاۗ مَا تَرٰى فِيْ خَلْقِ الرَّحْمٰنِ مِنْ تَفٰوُتٍۗ فَارْجِعِ الْبَصَرَۙ هَلْ تَرٰى مِنْ فُطُوْرٍ
ثُمَّ ارْجِعِ الْبَصَرَ كَرَّتَيْنِ يَنْقَلِبْ اِلَيْكَ الْبَصَرُ خَاسِئًا وَّهُوَ حَسِيْرٌ
“Allah Yang Telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka Lihatlah berulang-ulang. Adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang?
“Kemudian pandanglah sekali lagi niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu dgn tidak menemukan sesuatu cacat dan penglihatanmu itupun dalam keadaan letih”.
Sebagai khalifah di muka bumi ini, manusia ditugaskan mengelola alam semesta. Tugas ini juga diikuti dengan kemampuan menjaga keseimbangan lingkungan alam, maupun dengan sesama manusia agar mencapai tujuan yang telah dibuat oleh Allah Sang Pencipta sebagaimana ditegaskan Allah:
وَاِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلٰۤىِٕكَةِ اِنِّيْ جَاعِلٌ فِى الْاَرْضِ خَلِيْفَةً ۗ قَالُوْٓا اَتَجْعَلُ فِيْهَا مَنْ يُّفْسِدُ فِيْهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاۤءَۚ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ ۗ قَالَ اِنِّيْٓ اَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُوْ نَ
(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.” Mereka berkata, “Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?” Dia berfirman, “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (Q.S. Al-Baqarah: 30)
SUDUT PANDANG TEOLOGIS
Dalam pemahaman teologis, bencana alam dianggap sebagai peringatan dari Tuhan penguasa alam manusia menjadi sadar dan ingat terhadap kebesaran dan kekuasaan Tuhan. Namun dari sisi budaya atau mitologis, bencana sering dikaitkan “penunggu” suatu tempat atau pantangan yang dilanggar manusia ketika melakukan aktivitasnya. Penafsiran terhadap bencana pada akhirnya melahirkan sebuah ajaran yang disebut teologi bencana. Tentu saja masing-masing penafsir dalam memahami bencana dan penyebabnya ini sangat beragam tergantung pada keilmuan masing-masing.
Al- Qur’an sebagai pedoman bagi kaum muslim juga menyinggung tentang bencana ini dilengkapi berbagai macam fenomena alam dengan berbagai karakter bahasa yang digunakannya. Bencana dalam al-Qur’an menurut Dr. M. Quraish Shihab mempunyai makna yang beragam. Sebagaimana yang disebutkan dalam (QS. asy-Syura : 30), bahwa makna bencana sebagai musibah; (QS. al-Mulk: 2) menyatakan bahwa bencana sebagai bala’ atau ujian. Makna lain adalah fitnah(membakar), dalam al-Qur’an, kata ini dengan bala’ (QS. al-Anbiya : 35)
- Musibah; bermakna mengenai atau menimpa yang berarti sesuatu yang menyenangkan dan yang tidak menyenangkan yang menimpa manusia. Akan tetapi al-Qur’an menggunakan kata musibah berarti sesuatu yang tidak menyenangkan yang menimpa manusia. Sesekali pada kesempatan yang lain, kata Musibah disandingkan dengan akar kata bala’ (ujian). Seperti dalam Q.S Al-Baqarah: 155-156:
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوْعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْاَمْوَالِ وَالْاَنْفُسِ وَالثَّمَرٰتِۗ وَبَشِّرِ الصّٰبِرِيْنَ
اَلَّذِيْنَ اِذَآ اَصَابَتْهُمْ مُّصِيْبَةٌ ۗ قَالُوْٓا اِنَّا لِلّٰهِ وَاِنَّآ اِلَيْهِ رٰجِعُوْنَۗ
Dan sungguh akan kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Innalillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun.(Q.S. al-Baqarah: 155-156)”
- Bala’ atau ujian; sesuatu yang menyenangkan dan yang tidak menyenangkan. Sesuatu yang tidak menyenangkan bisa berbentuk fisik maupun tekanan jiwa. Sebagaimana firman-Nya:
كُلُّ نَفْسٍ ذَاۤىِٕقَةُ الْمَوْتِۗ وَنَبْلُوْكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً ۗوَاِلَيْنَا تُرْجَعُوْنَ
Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya) dan hanya kepada kamilah kamu dikembalikan.(Q.S. al-Anbiya’:35).
Adapun ujian berupa sesuatu yang menyenangkan, di antarnya adalah harta kekayaan yang melimpah sebagaimana firman-Nya:
قَالَ الَّذِيْ عِنْدَهٗ عِلْمٌ مِّنَ الْكِتٰبِ اَنَا۠ اٰتِيْكَ بِهٖ قَبْلَ اَنْ يَّرْتَدَّ اِلَيْكَ طَرْفُكَۗ فَلَمَّا رَاٰهُ مُسْتَقِرًّا عِنْدَهٗ قَالَ هٰذَا مِنْ فَضْلِ رَبِّيْۗ لِيَبْلُوَنِيْٓ ءَاَشْكُرُ اَمْ اَكْفُرُۗ وَمَنْ شَكَرَ فَاِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهٖۚ وَمَنْ كَفَرَ فَاِنَّ رَبِّيْ غَنِيٌّ كَرِيْمٌ
“Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari Al Kitab: “Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip”. Мака tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, iapun berkata: “Ini termasuk karunia Tuhanku untuk mencoba Aku apakah Aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). Dan barangsiapa yang bersyukur Мака Sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barangsiapa yang ingkar, Мака Sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia”. (Q.S. An-Naml:40).
- Azhab; sesuatu yang diakibatkan oleh ulah manusia yang durhaka kepada Allah berupa siksa yang memusnahkan untuk menyadarkan agar tidak mengulangi perbuatannya. Sebagaimana ayat yang disampaikan dari surat al-Mujadalah ayat 15 dan 16 :
اَعَدَّ اللّٰهُ لَهُمْ عَذَابًا شَدِيْدًاۗ اِنَّهُمْ سَاۤءَ مَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ
اِتَّخَذُوْٓا اَيْمَانَهُمْ جُنَّةً فَصَدُّوْا عَنْ سَبِيْلِ اللّٰهِ فَلَهُمْ عَذَابٌ مُّهِيْنٌ
Artinya: Allah telah menyediakan bagi mereka azab yang sangat keras, sesungguhnya amat buruklah apa yang telah mereka kerjakan. Mereka menjadikan sumpah-sumpah mereka sebagai perisai, lalu mereka halangi (manusia) dari jalan Allah; karena itu mereka mendapat azab yang menghinakan.
Setelah mengetahui makna-makna tersebut, hendaknya kita berfikir secara bijaksana dalam menelaah bencana yang terjadi di sekitar kita. Bencana yang terjadi bukan semata-mata adanya azab atau balasan dari Allah bagi hambanya yang tidak melaksanakan amalan-amalan yang diperintahkan Allah. Bencana juga bukan merupakan hukuman bagi orang yang berdosa. Bencana mungkin sebagai ujian bagi manusia untuk meningkatkan derajat keimanannya karena bencana tidak memandang umur, status sosial, jenis kelamin, dan derajat keimanan. Diharapkan dengan adanya bencana kita sebagai manusia lebih bijaksana dalam melihat fenomena alam, sehingga akan bertanggungjawab untuk selalu memelihara ciptaan Allah tanpa merusak ekosistem dan lingkungan yang ada.
KONSEP BENCANA DALAM SAINS
Allah mengirim wahyu untuk mengaktifkan akal manusia dengan meluruskan imannya serta pedoman dalam ibadah yang tertuang dalam kitab suci Al-Qur’an. Hubungan akal dan wahyu tidak dapat dipahami secara struktural (hubungan atas bawah), melainkan dipahami secara fungsional. Akal sebagai subjek berfungsi memecahkan masalah, sedangkan wahyu memberi wawasan moralitas atas pemecahan masalah oleh akal, dan juga untuk menginformasikan hal-hal yang tidak dapat dijangkau oleh akal. Al-Qur’an merupakan sumber intelektual dan spiritualitas Islam yang merupakan basis dan sumber inspirasi pandangan Muslim tentang pengetahuan spiritualitas, tetapi juga untuk semua jenis pengetahuan sehingga terjadi keterpaduan semua jenis pengetahuan. Meskipun demikian, Al-Qur’an bukanlah kitab sains, tetapi memberikan prinsip-prinsip sains yang selalu dikaitkan dengan pengetahuan metafisik dan spiritual.
- Aspek Historis (Sejarah)
- Dalil : Al Fatihah “Tunjukanlah kami jalan yang lurus. (yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.”
- Kata sejarah secara harfiah berasal dari bahasa Arab šajaratun yang artinya pohon. Dalam bahasa Arab sendiri, sejarah disebut tarikh. Adapun kata tarikh dalam bahasa Indonesia artinya waktu atau penanggalan. Kata Sejarah lebih dekat pada bahasa Yunani yaitu historia yang berarti ilmu atau orang pandai, dalam bahasa Inggris menjadi history, yang berarti masa lalu manusia. Kata lain yang mendekati acuan tersebut adalah Geschichte yang berarti sudah terjadi (bhs Belanda: Geschiedenis)
- Alquran juga banyak menuliskan tentang bencana alam dalam kisah para nabi seperti Nabi Luth dan Nabi Nuh.
- Sebagai daerah yang sering dilanda bencana banjir, kota Semarang terutama yang bagian bawah, dulunya adalah lautan. Dalam kurun waktu dari abad 13 – 19 secara perlahan mengalami pendangkalan (sedimentasi). Kondisi ini berpotensi mengundang banjir sehingga pada zaman pemerintah kolonial Belanda, dibangunlah beberapa kanal dan saluran air untuk mencegah banjir. Bahkan kanal itu bisa berfungsi sebagai sarana transportasi karena bisa dilewati kapal berukuran kecil dan menengah. Namun kanal dan saluran itu kini tidak bisa seperti dulu lagi karena mengalami penyempitan, pendangkalan dan penurunan muka tanah. Untuk mengatasi banjir, saat ini mengandalkan pompa air untuk mengalirkannya ke laut.
- Aspek Geologis dan Kondisi Geografis
- Dalil : Surat Fussilat : 9-10tentang penciptaan bumi:
قُلْ اَىِٕنَّكُمْ لَتَكْفُرُوْنَ بِالَّذِيْ خَلَقَ الْاَرْضَ فِيْ يَوْمَيْنِ وَتَجْعَلُوْنَ لَهٗٓ اَنْدَادًا ۗذٰلِكَ رَبُّ الْعٰلَمِيْنَ ۚ
وَجَعَلَ فِيْهَا رَوَاسِيَ مِنْ فَوْقِهَا وَبٰرَكَ فِيْهَا وَقَدَّرَ فِيْهَآ اَقْوَاتَهَا فِيْٓ اَرْبَعَةِ اَيَّامٍۗ سَوَاۤءً لِّلسَّاۤىِٕلِيْنَ
Katakanlah, “Pantaskah kamu mengingkari Tuhan yang menciptakan bumi dalam dua masa dan kamu adakan pula sekutu-sekutu bagi-Nya? Itulah Tuhan semesta alam.”
Dia ciptakan bumi itu gunung-gunung yang kokoh di atasnya, lalu Dia memberkahi dan menentukan makanan-makanannya dalam empat masa yang cukup untuk kebutuhan mereka yang membutuhkan.
- Penciptaan bumi berdasarkan Al-Qur’an dan Geologi dapat digambarkan sebagai berikut: dua masa sebagaimana dikutip dalamFussilat : 9 kemudian, empat masa berikutnya seperti yang dikutip dalam Fussilat :10 mungkin berkorelasi mengingat proses alam seperti pelapukan, erosi, sedimentasi, kebencanaan (gempa bumi), gunung berapi dan lain-lain akan terus berlangsung hingga akhir zaman.
- Dari keterangan ayat-ayat tersebut terlihat bahwa bumi memiliki potensi geologis yang berupa gempa yaitu adanya patahan (sesar) dan gunung berapi (ring of fire). Inilah yang harus dipahami masyarakat yang tinggal di daerah sekitarnya.
- Potensi gempa karena pergerakan sesar atau lempeng tektonik ini juga disebut dalam Al-Qur’an surat An-Naml ayat 88:
وَتَرَى الْجِبَالَ تَحْسَبُهَا جَامِدَةً وَّهِيَ تَمُرُّ مَرَّ السَّحَابِۗ صُنْعَ اللّٰهِ الَّذِيْٓ اَتْقَنَ كُلَّ شَيْءٍۗ اِنَّهٗ خَبِيْرٌۢ بِمَا تَفْعَلُوْنَ
“Engkau akan melihat gunung-gunung yang engkau kira tetap di tempatnya, padahal ia berjalan seperti jalannya awan. (Demikianlah) penciptaan Allah menjadikan segala sesuatu dengan sempurna. Sesungguhnya Dia Maha Teliti terhadap apa yang kamu kerjakan”.
- Dalam sejarah, kota Semarang pernah dilanda gempa pada 19 Januari 1856 namun penyebab gempa tidak disebut secara detail karena saat itu geologi belum berkembang (kumparan.com). Skala MMI (Modified Mercalli Index) dari gempa ini adalah 5 (guncangan kuat) selama 30 detik (IHE). Kekuatan gempa ini dirasakan oleh semua orang, barang-barang berjatuhan hingga merubuhkan bangunan semi permanen dan pepohonan, serta menyebabkan likuifaksi pada beberapa tempat tertentu. Gempa tersebut disebabkan oleh sesar Kaligarang, yang memiliki bidang pelurusan Utara-Selatan sejajar dengan aliran sungai Kaligarang. Sesar ini merupakan sesar aktif yang memotong batuan muda di selatan Kota Semarang dan diperkirakan berlanjut hingga Laut Jawa. Selain itu, di Semarang juga terdapat sesar lainnya yang memiliki pola pelurusan yang sama, yakni Sesar Kreo, Sesar Gribik, dan Sesar Karanganyar Gunung. Sesar Kaligarang sendiri memiliki laju pergeseran batuan sebesar 4,5 mm per tahunnya. Nilai pergeseran batuan tersebut memang relatif kecil, namun jika terakumulasi dalam waktu yang lama, maka nilainya akan bertambah besar. Sesar ini juga dapat memicu terjadinya fenomena likuifaksi yang berpotensi terjadi pada daratan muda yang tanah/sedimennya belum terkompaksi, misalnya pada wilayah Semarang bawah. Untuk wilayah Semarang Atas, lebih berpotensi longsor jika tergerus air hujan terus menerus.
- Aspek Klimatologis
- Ilmu yang mempelajari tentang iklim, cara kerja sistem iklim, variasi dan penyimpangannya, serta pengaruhnya terhadap kegiatan manusia.
- Dalil : surat Al-A’raf ayat 130, Allah berfirman:
وَلَقَدْ اَخَذْنَآ اٰلَ فِرْعَوْنَ بِالسِّنِيْنَ وَنَقْصٍ مِّنَ الثَّمَرٰتِ لَعَلَّهُمْ يَذَّكَّرُوْنَ
“Dan sesungguhnya Kami telah menyiksa (Firaun dan) kaumnya dengan musim kemarau yang panjang dan kekurangan buah-buahan, agar mereka mendapat pelajaran.”
- Dari ayat ini nyatalah bahwa perubahan iklim (krisis iklim) sudah dijelaskan di Al-Qur’an termasuk mengingatkan bahayanya seperti yang pernah terjadi pada zaman Firaun, ribuan tahun yang lalu.
- Sebenarnya sudah lama para ahli mengingatkan akan terjadinya perubahan iklim. Perubahan yang tak hanya berdampak naiknya suhu rata-rata bumi, tapi juga yang lain, seperti mulai dari hilangnya terumbu karang sebagai rumah ikan, naiknya permukaan laut (rob), mencairnya es di kutub, hingga cuaca yang sulit diramal, karena musim yang datang tak menentu.
- Menumpuknya emisi karbon di atmosfer akibat industrialisasi, kendaraan ber BBM, sampai deforestasi (penggundulan hutan) menjadi pemicunya. Bahkan Sekjen PBB telah menyampaikan bahwa bumi telah mencapai suatu fase yang dinamakan “Pendidihan Global” (Kompas, 22 Mei 2024). Tahun 2023 yang lalu disebut sebagai tahun yang terpanas sepanjang sejarah. WMO (Organisasi Meteorologi Dunia) juga memperingatkan (kemungkinan 66%) bahwa, setidaknya dalam satu dari lima tahun ke depan, suhu global akan melebihi ambang batas 1,5 °C di atas ambang batas yang ditetapkan dalam Perjanjian Paris (2015).
- Dampak lainnya dari bencana hidrometeorologi adalah banjir besar, seperti yang terjadi awal bulan Ramadhan lalu di Semarang. Menurut BRIN curah hujan yang sangat tinggi ini diakibatkan oleh awan squalence yang terbentuk akibat krisis iklim. Jelaslah bahwa ini bukanlah kondisi cuaca biasa yang sudah berlangsung bertahun-tahun.
Kesimpulan :
- Bumi diciptakan Allah mengalami pertumbuhan berdasarkan keselarasan dan keserasian. Namun keselarasan itu bisa berubah menjadi bencana akibat ulah manusia yang tidak mengindahkan hukum alam (sunatullah). Bencana ini kemudian menyadarkan kita bahwa banyak hal telah berubah di bumi karena perbuatan kita selama ini. Ekonomi yang dipacu begitu cepat dan masif menjadi faktor utamanya. Dan begitu kita mengurangi aktivitas tersebut, perlahan alam kembali berubah ke kondisi semula seperti ketika pandemi Covid lalu. Langit menjadi lebih cerah, timbunan emisi gas buang di atmosfer jauh berkurang, sejumlah sungai dan kanal (di Italia) menjadi lebih jernih.
- Bencana alam seperti gempa bumi dan gunung berapi bisa menyadarkan manusia untuk membuat teknologi pendeteksi gempa dan gunung berapi serta bangunan tahan gempa atau mempelajari kearifan lokal dari masyarakat setempat. Namun ada sisi positif lain dari kondisi ini yaitu munculnya batuan mineral baru dan pemanfaatan energi panas bumi (geotermal) untuk pembangkit listrik yang bersih dan murah serta material vulkaniknya bisa menyuburkan tanah. Selain itu pasir dan batuannya juga bermanfaat untuk material konstruksi.
- Komunikasi yang tepat merupakan hal yang sangat penting untuk menjelaskan makna bencana alam yang terkait dengan perubahan iklim terutama kepada generasi muda (Gen Z) karena merekalah yang akan melanjutkan pengelolaan bumi ini. Kegagalan dalam komunikasi bisa berdampak pada bencana yang makin besar. Komunikasi semacam ini perlu pengetahuan dan kesabaran karena hal itu bersifat ilmiah. Ketidaktahuan tentang isu iklim bisa berubah jadi apatisme alias pasrah terima nasib padahal bencana ini akan terus datang. Dampak lain bisa muncul spt kegagalan panen, munculnya penyakit baru, kemiskinan, konflik sosial, dll.
Demikianlah uraian tentang makna bencana alam dalam perpektif Al-Qur’an dan Sains. Semoga bermanfaat bagi kita. Sebagai penutupnya, saya menyempaikan sebuah ayat yang mungkin sudah sering kita dengar terutama berkaitan dengan pemahaman ini, salah satu firman Allah yang ditegaskan dalam Surat Al-A’raf ayat 56:
وَلَا تُفْسِدُوْا فِى الْاَرْضِ بَعْدَ اِصْلَاحِهَا وَادْعُوْهُ خَوْفًا وَّطَمَعًاۗ اِنَّ رَحْمَتَ اللّٰهِ قَرِيْبٌ مِّنَ الْمُحْسِنِيْنَ
“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) mengaturnya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harapan. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.”

(foto : dok BNPB)
